image
Shutterstock
1 October 2021

Bagaimana Refuse Derived Fuel (RDF) Mengatasi Masalah Sampah di Indonesia?

UNPAGE Indonesia - Refused Derived Fuel (RDF) adalah teknologi yang mampu mengubah sampah menjadi energi, memulihkan bahan yang dapat didaur ulang, mengurangi emisi karbon, dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Teknologi RDF relatif baru, namun kita bisa melihat kemajuan perkembangannya. Salah satunya adalah Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional di Desa Lulut, Bogor. Areal dengan luas 15 hektar ini mampu menghasilkan RDF 577-630 ton/hari dengan biaya investasi Rp694 miliar.

Bahan bakar yang dihasilkan dari RDF berlaku untuk semua skala teknologi termal, baik kecil maupun besar. Sehingga dapat diterapkan pada produksi dari tingkat masyarakat hingga tingkat komersial yang masif.

RDF memiliki tujuh sumber limbah yang berbeda menurut American Society for Testing and Materials. Pada umumnya diperoleh dari berbagai jenis fraksi limbah yang mudah terbakar dan tidak berbahaya dari keluaran kegiatan rumah tangga dan industri. Kategori sumber RDF dibagi menjadi dua, Municipal Solid Waste (MSW) Industrial Solid Waste (ISW).

Sementara itu, ilmuwan lingkungan Pham Thi Thuy Trang membagi RDF menjadi tiga kelompok. Mereka adalah RDF-MS (jenis RDF yang dapat dihasilkan dari MSW), RDF-IMC (jenis RDF yang dapat dihasilkan dari ISW, MSW, dan limbah konstruksi yang diperoleh dari kegiatan industri), kemudian RDF-IS (RDF di bentuk gas).

50,1% sumber daya MSW dapat digunakan untuk menghasilkan sumber daya RDF. Sedangkan ISW mencapai 86,8%, termasuk limbah padat industri dan lumpur industri.

Sumber dari MSW memiliki tingkat konversi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan tingginya fraksi limbah makanan dan pertanian, nilai kalor yang relatif rendah dibandingkan dengan jenis limbah lainnya.

Mustafa Kara, peneliti di TUBITAK Marmara Research Center mengungkapkan bahwa RDF mampu menurunkan emisi karbon/CO2 dan produksi klinker batubara di industri semen. ??RDF 15% yang digunakan dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 633 kg/jam dan menghemat biaya hingga $629,04/tahun.

Sebagian besar RDF untuk tanur semen berasal dari MSW dan limbah pertanian. Setelah sebelumnya dipotong, disortir, dan dipisahkan dari logam dan bahan lain yang tidak dapat digunakan sebagai bahan bakar. Kemudian bahan yang dihasilkan diubah menjadi halus, padat, dibakar, atau bentuk lain seperti pelet. Hal ini umumnya dikenal sebagai mekanisme co-processing.

Selain itu, RDF juga dapat digunakan sebagai bahan bakar pencampur/cofiring untuk pembangkit listrik tenaga batubara di Indonesia. Cofiring adalah kegiatan pembakaran bahan bakar yang menggunakan campuran bahan bakar batubara dengan bahan bakar biomassa. Untuk memenuhi kebutuhan cofiring, PLTU Batubara membutuhkan pelet biomassa sebanyak 4,15 juta ton per tahun atau pelet limbah sebanyak 749 ribu ton per tahun.

RDF juga dapat diterapkan di Community based Waste to Energy (Tempat Olah Sampah Setempat/TOSS) dengan mengubah sampah menjadi pelet atau briket untuk bahan bakar bersih. Skema yang dikembangkan melalui biodrying (peyeumisasi) dimana limbah padat diolah tanpa lindi, tanpa pemupukan, dan tidak memerlukan keahlian khusus untuk mengoperasikan sistem tersebut.

Meski tergolong skala kecil, TOSS berpotensi mendukung rencana cofiring Indonesia dengan menyalurkan outputnya ke pembangkit listrik tenaga uap. TOSS berpotensi mengoperasikan MSW hingga 30 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan cofiring dengan rasio 3-5%.